20130401_165952Ketika hendak menentukan judulnya, saya benar benar bingung. Bagaimana saya harus menulis nama binatang ini : entog, mentog, entok atau menthok? Istilah dalam Bahasa Indonesianya pun saya tak tahu. Wis embuhlah lah…akhirnya yaah setahu saya saja.

Kata orang-orang, daging menthok/enthok itu lebih harum dan lebih enak dari pada bebek. Dan yang pasti, dagingnya lebih gemuk. Namun perasaan saya mengatakan…podo wae aliaas sama saja. Kebetulan ketika berbelanja ke pasar minggu, daging bebeknya sudah laris manis terjual. Yang masih ada ya menthok ini….ternyata uenak juga meski penampilannya kurang mempesona karena warnanya jadi item kecoklatan! Mau nyoba? Monggo….

Bahan:

  • 1 ekor menthok/enthok (bisa juga diganti bebek atau ayam) dipotong-potong sesuai selera
  • 2 akar laos yang masih segar dan cukup besar, dicuci bersih lalu diparut
  • 1 batang serai, daun salam, daun jeruk
  • Air secukupnya
  • Minyak goreng sedikit untuk menumis

Bumbu halus:

  • 6 butir bawang merah
  • 6 butir bawang putih
  •  5 cm kunyit
  • 2 cm jahe
  • 1 sdm ketumbar
  • Garam secukupnya

Memasaknya:

  1. Tumis bumbu halus bersama serai, daun salam dan daun jeruk sampai harum.
  2. Tuangi air secukupnya.
  3. Masukkan menthok/bebek/ayam dan laos parut kedalamnya.
  4. Masak terus sampai daging matang dan kuah menyusut.
  5. Tiriskan ayam dan laos, kemudian goreng sampai cukup kering.
  6. Sajikan bersama lalapan dan sambal terasi.